International Investor Club – Instrumen reksadana pendapatan tetap yang berbasis obligasi pemerintah akan terkena dampak positif, seiring adanya potensi penurunan dari yield obligasi pemerintah 10 tahun, menurut PT Bank OCBC NISP Tbk.

Baca Juga: Pasar Surat Utang Negara (SUN) Berpotensi Menguat

Reksadana Pendapatan Tetap Siap Bersinar

Reksadana Pendapatan Tetap

Berdasarkan sajian berita Bareksa dijabarkan, Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska menjelaskan, pada Juni 2021, pasar obligasi mengalami kerugian. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun meningkat 2,62 persen menjadi 6,59 persen.

“Pergerakan tersebut didorong oleh berbagai faktor seperti varian Delta Covid-19 yang meredam sentimen dan depresiasi rupiah,” ujar dia dalam keterangan resmi akhir pekan lalu.

Namun demikian, investor asing masih mencatat aliran modal masuk Rp 18,07 Triliun yang menunjukkan sebagian besar aksi jual didominasi oleh investor domestik. Dengan penawaran real yield yang relatif lebih tinggi oleh obligasi domestik, pihaknya optimistis pasar obligasi masih akan bertumbuh tahun ini.

“Kami masih mempertahankan proyeksi tahun sebelumnya dengan proyeksi akhir untuk yield obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran 6,15-6,5 persen,” terang dia.

Penurunan yield obligasi pemerintah ini tentunya berdampak positif bagi instrumen berbasis obligasi pemerintah, yakni reksadana pendapatan tetap. Dari 29 produk reksadana pendapatan tetap yang ada di Bareksa, hampir seluruhnya membukukan tingkat pengembalian (return) positif.

Hanya Manulife Obligasi Unggulan Kelas A dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia yang return-nya terkoreksi 1,06 persen dalam satu tahun.

Return yang Baik

Reksadana pasar uang

Sementara 28 produk lainnya masih membukukan return positif, di rentang 0,41-14,33 persen. Syailendra Pendapatan Tetap dan Sucorinvest Bond Fund menjadi reksadana pendapatan tetap yang mencetak return tertinggi.

Sucorinvest Bond Fund dari PT Sucor Asset Management mencatat return 14,33 persen dalam setahun atau tertinggi di antara reksadana pendapatan tetap lainnya.

Sementara reksadana Sucorinvest Bond Fund mencetak return 13,48 persen atau return terbesar kedua di jajaran produk reksadana pendapatan tetap.

Selain itu, sebelumnya, dalam sepekan terakhir, imbal hasil (yield) obligasi AS cenderung mengalami penurunan setelah bank sentral The Fed menyatakan jika kenaikan inflasi saat ini bersifat sementara dan akan tetap menjalankan kebijakan program pembelian obligasi.

Hal tersebut diproyeksikan menjadi katalis positif untuk pasar obligasi Indonesia, karena selisih (spread) yang cukup lebar antara imbal hasil (yield) acuan obligasi AS dan Indonesia yang saat ini sekitar 5,2 persen dapat menarik arus dana asing untuk melakukan pembelian obligasi di Indonesia, terutama SBN yang lebih sensitif terhadap isu makro ekonomi.

Berdasarkan Fund Fact Sheet bulan Juni, Sucorinvest Bond Fund menempatkan sekitar 97.46 persen dana kelolaannya pada obligasi dan atau sukuk pemerintah & BUMN Infrastruktur dengan total durasi portofolio sebesar 6.82.