International Investor Club – Saham emiten barang konsumer PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melanjutkan pelemahan pada awal perdagangan pekan ini, setelah pada Jumat dan Kamis pekan lalu kemarin saham ini juga terkoreksi. Pelemahan saham UNVR terjadi setelah perusahaan yang baru saja merilis laporan kinerja semester-I yang tertekan.

Baca Juga: BABP, Saham Paling Diburu di Bursa Indonesia

UNVR ke Terendah 8 Tahun

Unilever UNVR
Agent Pekka (doc.)

Berdasarkan sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, saham UNVR ambles 0,83% ke posisi Rp 4.760/saham, dengan nilai transaksi Rp 40 Miliar. Volume perdagangan saham UNVR tercatat sebesar 8,5 juta saham.

Seiring dengan melemahnya saham UNVR, asing tercatat ramai-ramai keluar dari saham ini dengan nilai jual bersih (net sell) mencapai Rp 11,3 Miliar di pasar reguler.

Pada perdagangan kemarin, saham UNVR juga melorot 4,48%, setelah ambruk 1,95% pada Kamis (22 Juli). Alhasil, dalam sepekan, saham emiten yang melantai di bursa sejak 1982 ini ambles 7,57%, sementara dalam sebulan turun 4,80%. Secara year to date (ytd) pun saham UNVR anjlok 35,24%.

Koreksi hari ini menjadikan harga UNVR jatuh ke level terendah sejak 8 tahun terakhir terpatnya di bulan Mei tahun 2013.

Sebelumnya, Unilever Indonesia melaporkan kinerja semester I-2021 atau periode 6 bulan yakni Januari-Juni dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih UNVR per Juni tercatat sebesar Rp 3,05 Triliun, turun 15,75% dari periode yang sama tahun lalu Rp 3,62 Triliun.

Laba Anjlok

saham farmasi ARB
Bisniscom (doc.)

Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), akhir pekan kemarin, penurunan laba bersih seiring dengan koreksi pendapatan di periode 6 bulan ini. Pendapatan UNVR tercatat Rp 20,18 triliun, turun 7,30% dari Juni 2020 sebesar Rp 21,77 Triliun.

Penjualan dalam negeri mencapai Rp 19,29 Triliun, turun dari Rp 20,77 Triliun, sementara ekspor juga turun menjadi Rp 888,11 Miliar dari Rp 1 Triliun.

Penjualan kepada pihak terafiliasi terbesar yakni ke Unilever Asia Private Limited, Unilever (Malaysia) Holdings Sdn Bhd, Unilever Philippines, Inc., Unilever EAC Myanmar Company Limited, Unilever Australia Ltd, dan Unilever Thai Trading Limited.

Perseroan mencatatkan laba bruto Rp 10,25 Triliun, juga turun dari sebelumnya Rp 11,18 Triliun, sementara harga pokok penjualan turun menjadi Rp 9,93 Triliun dari Rp 10,59 Triliun.

Adapun beban pemasaran dan penjualan berhasil diturunkan menjadi Rp 4,22 Triliun dari sebelumnya Rp 4,29 Triliun.

Per Juni, jumlah aset tercatat Rp 20,27 Triliun, dari Desember 2020 Rp 20,53 Triliun di mana kas dan setara kas berkurang drastis menjadi Rp 526,36 Miliar dari Desember 2020 sebesar Rp 844,08 Miliar.

Total kewajiban mencapai Rp 16,26 Triliun dari Desember 2020 Rp 15,59 Triliun, dengan ekuitas Rp 4,01 Triliun dari Desember 2020 Rp 4,94 Triliun.

Ira Noviarti, Presiden Direktur Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa pertumbuhan pasar FMCG (Fast Moving Consumer Goods) belum sepenuhnya pulih karena pandemi Covid-19. Ini yang menyebabkan konsumen masih berhati-hati dalam memilih pola konsumsi di beberapa kategori basic.

Ira pun mengungkapkan:

“Berbagai tantangan tersebut tentunya mempengaruhi tingkat pertumbuhan dari perseroan. Kondisi ini juga ditambah dengan kenaikan harga komoditas yang mulai mempengaruhi biaya produk.”

Sebab itu, perseroan memilih untuk fokus untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut. Perseroan memiliki strategi yang menyeimbangkan keberlangsungan bisnis jangka pendek dan jangka panjang.

“Kami manifestasikan menjadi lima strategi prioritas, mendorong pertumbuhan pasar melalui stimulasi konsumsi konsumen, memperluas dan memperkaya portfolio ke value dan premium segment, memperkuat kepemimpinan dalam inovasi dan future channel, penerapan E-Everything di semua lini termasuk penjualan, operasional, dan pengolahan data, dan tetap menjadi yang terdepan dalam penerapan bisnis yang berkelanjutan.”