BBHI

International Investor Club – Serbuan investor terhadap saham PT Allo Bank Indonesia Tbk milik pengusaha nasional Chairul Tanjung belum akan berakhir. Antrian beli melonjak pada penghujung penutupan perdagangan Jumat lalu dan terus berlanjut hingga awal pekan ini.

Baca Juga: VISA Berencana Menyediakan Layanan Kripto ke Bank Tradisional Brasil

BBHI Diminati

BBHI
Bizlaw ID (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, terdapat antrian beli atas saham sebanyak 276.445 lot, atau setara Rp 78 Miliar jika mengacu pada harga Jumat (Rp 2.830/unit).

Hal ini mengindikasikan tingginya kekuatan beli di pasar terhadap saham emiten berkode BBHI tersebut. Kenaikan terjadi merespons rencana penawaran umum terbatas (PUT) III dalam rangka penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Pada Jumat pekan lalu, saham BBHI lompat 24,7% ke Rp 2.830/unit, dengan nilai transaksi Rp 126,2 Miliar dan volume perdagangan 47,5 juta saham. Dalam sepekan saham ini melejit 29,2%, dalam sebulan naik 11,9% dan secara tahun berjalan (year to date/YTD) meroket 1.209,9%.

Berdasarkan prospektus yang disampaikan di BEI, PT Mega Corpora yang menjadi pemegang saham pengendali (dengan kepemilikan 90%), memiliki opsi mengalihkan HMETD yang menjadi haknya kepada “investor tertentu yang memiliki komitmen untuk mendukung permodalan dan kegiatan usaha perseroan.”

“Mega Corpora memiliki opsi untuk dapat mengalihkan sebagian atau seluruh dari HMETD yang menjadi haknya kepada investor tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (4) POJK 9/2018,” demikian tertulis dalam prospektus.

Setelah Akuisisi

MEGA BBHI Bank Harda
Bank Harda (doc.)

POJK itu mengatur bahwa apabila setelah terjadinya pengambilalihan, perseroan melakukan aksi korporasi yang mengakibatkan terpenuhinya kepemilikan masyarakat paling sedikit 20%, maka kewajiban mengalihkan saham yang dikuasai akibat Penawaran Tender Wajib sehingga kepemilikan melebihi 80% tidak berlaku.

“Dengan asumsi HMETD Mega Corpora dapat diambil sebagian oleh investor strategis dan sebagian dilaksanakan oleh Mega Corpora serta seluruh pemegang saham publik mengambil bagian atas HMETD yang menjadi haknya, maka bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD-nya akan terkena dilusi kepemilikan maksimum sebesar 48,49%,” tulis prospektus tersebut.

Sumber pasar mengembuskan informasi bahwa investor strategis yang akan masuk menyerap saham baru itu berasal dari perusahaan dengan ekosistem digital yang tengah hype saat ini, kendati manajemen BBHI menyatakan akan segera merilis detail nama investor baru tersebut. Hal inilah yang memicu aksi buru saham perseroan.

Dalam PUT ke-III ini, eks Bank Harda tersebut akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 11 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100/unit yang akan ditawarkan melalui PMHMETD atau 94,15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.