International Investor Club – PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) akan menghapus sebagian sahamnya dari pasar modal atau partial delisting. Hal ini dilakukan untuk mengimplementasi Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1999, bahwa kepemilikan saham kurang dari 1% tidak lagi dicatatkan di BEI.

Baca Juga: BCIC Kena ARB 14 Kali, Ini Ada Apa Sih?

Partial Delisting Saham BBKP

BBKP
Kontan (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, dalam keterbukaan informasinya BBKP menyebut, partial delisting akan mulai efektif pada 20 September 2021. Jumlah saham yang akan dihapus sebanyak 514.121.700 lembar saham milik Koperasi Perkayuan Apkindo (Kopkapindo) dan PT Bosowa Corporindo.

Dengan adanya penghapusan saham tersebut, total saham yang dimiliki BBKP yakni sebanyak 31.996.002.771 lembar saham. Sehingga total saham BBKP yang tidak dicatatkan yaitu sebanyak 677.248.423 saham.

Saham tersebut adalah milik Kopkapindo sebanyak 397.602.613 saham, milik PT Bosowa Corporindo sebanyak 188.779.606 saham, dan milik Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia (Kopelindo) sebanyak 90.866.204 saham.

Sekadar informasi, Bank KB Bukopin tengah melakukan penguatan modal melalui penerbitan surat utang. Penawaran obligasi ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed). Bank KB Bukopin juga akan menggelar rights issue, di mana PT Bosowa Corporindo tidak dapat menggunakan haknya dalam aksi korporasi tersebut.

Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.64/KDK.02/2020 yang dikeluarkan pada 24 Agustus 2020 sebagai penetapan tidak lulusnya Bosowa jadi pemegang saham pengendali BBKP,  OJK mewajibkan Bosowa untuk mengalihkan seluruh kepemilikan saham dalam jangka waktu paling lambat satu tahun sejak ditetapkan dengan predikat tidak lulus.

Mengacu pada keputusan yang sempat menyebabkan kisruh dan saling gugat antara Bosowa dan OJK itu, Bosowa harus menjual seluruh sahamnya paling lambat pada 24 Agustus 2021 lalu.

KIK EBA Raih Peringkat idAAA

CNBC Indonesia (doc.)

Selain itu, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan peringkat idAAA(sf) untuk KIK EBA Bahana Bukopin yang merupakan kumpulan tagihan kredit pensiunan yang dialihkan ke Kelas A1 dan Kelas A2.

Pada tanggal cut-off 22 Juli 2021, kumpulan tagihan yang beredar berjumlah Rp 960,97 Miliar terdiri dari kelas A1 dan A2 sebesar Rp 841,37 Miliar, dan kelas B yang tidak diperingkat sebesar Rp 119,60 Miliar atau 9,2% dari total KI. Nilai EBA pada saat penerbitan sebesar Rp 1,3 Triliun.

Pefindo menyebut, idAAA merupakan peringkat tertinggi yang diberikan sehingga perusahaan memiliki kemampuan superior untuk memenuhi kewajiban jangka panjang. Sementara tanda sufiks (sf) menunjukkan peringkat atas transaksi keuangan terstruktur.

“Peringkat tersebut mencerminkan struktur transaksi yang kuat dengan skema penarikan langsung (direct deduction) dengan profil kredit PT Taspen (Persero) yang superior sebagai penyedia dana pensiun.”

Kemudian imbal hasil yang tinggi dari aset yang mendasari, dan penguatan kredit dalam bentuk EBA Kelas B dan perlindungan asuransi. Namun Peringkat tersebut dibatasi oleh kenaikan tren mortalitas selama masa pandemi ini.

Bank Bukopin sebagai kreditur awal, menjual pool kredit pensiunan senilai Rp1,3 Triliun kepada kontrak investasi kolektif yang dibentuk oleh Bahana TCW Asset Management yang berfungsi sebagai manajer investasi.

Sedangkan PT Bank Maybank Indonesia Tbk bertindak sebagai wali amanat dan bank kustodian untuk transaksi ini.