International Investor Club – Harga obligasi pemerintah Indonesia sepanjang perdagangan pekan ini variatif cenderung menguat, sebagaimana terlihat dari pergerakan imbal hasil (yield) yang rata-rata melemah 0,2 basis poin (bp).

Baca Juga: BEKS Jual Rp 77 per Saham dari Rights Issue, Dapat Modal Baru Rp 1,8 Triliun

Obligasi RI Cenderung Menguat

Obligasi Global

Dalam sajian Beritamu dijabarkan, imbal hasil bergerak berlawanan dari harga sehingga penurunan yield mengindikasikan harga surat utang yang naik akibat aksi beli. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun yang menjadi acuan di pasar turun 0,3 bp ke 6,35% pada akhir pekan kemarin, dari posisi akhir pekan sebelumnya di 6,353%.

Penurunan imbal hasil terbesar terjadi pada SBN tenor 15 tahun sebanyak 3,5 bp. Sebaliknya, penguatan imbal hasil paling signifikan terjadi pada SBN tenor 20 tahun yang mencapai 8,5 bp. Hal ini menunjukkan variatifnya sentimen pelaku pasar modal di Tanah Air.

Aksi beli obligasi (yang memicu pelemahan yield) umumnya terjadi ketika investor menilai prospek perekonomian sedang memburuk, sehingga mereka memilih mengoleksi aset aman seperti obligasi pemerintah yang memang risiko gagal bayarnya mendekati nol.

Kabar Positif

obligasi dan rupiah

Namun sepekan ini, pasar sedang diterpa kabar positif dari kenaikan harga komoditas andalan nasional, sehingga memperkuat prospek perekonomian di tengah kian melandainya penyebaran Covid-19.

Hanya saja, kekhawatiran muncul dari luar negeri di tengah tren peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena dipicu spekulasi tinggi yang bakal memaksa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mempercepat kebijakan tapering.

Ketika imbal hasil AS naik, pelaku pasar global akan menyesuaikan portofolionya dan cenderung menarik kembali aset investasinya di negara berkembang seperti SBN, untuk memburu aset serupa di AS yang premi risikonya lebih rendah.

Kombinasi dua sentimen tersebut membuat pasar obligasi nasional cenderung berkerak mixed (bercampur), dengan kenaikan harga di beberapa seri dan penurunan harga di beberapa seri lainnya.

Disisi lain, kinerja mayoritas reksadana saham dan reksadana indeks menurun seiring pasar saham nasional yang melemah akibat tertekan aksi jual (profit taking) investor.

Pelemahan itu setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan hingga 3 persen ke level tertinggi sejak awal 2021. Indeks saham nasonal pada 07 Oktober 2021 turun tipis 0,01 persen ke level 6.416,4.

Meski begitu, menurut analisis Bareksa, investor asing masih memburu saham dengan kinerja keuangan serta prospek yang dinilai baik (saham bluechip) di IHSG.

Senada, pasar obligasi cenderung bergerak stagnan, dengan pelemahan tipis pada mayoritas kinerja reksadana pendapatan tetap.

Pelemahan itu akibat sentimen perbaikan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang mendorong kenaikan potensi pengurangan program pembelian obligasi oleh Bank Sentral Negeri Paman Sam (The Fed), juga menopang penguatan imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS.

Hal ini turut mempengaruhi pelemahan harga obligasi global, termasuk Indonesia.