Obligasi

International Investor Club – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai krisis gagal bayar raksasa properti, China Evergrande akan berimbas netral terhadap penerbitan surat utang korporasi Tanah Air.

Analis Pefindo, Yogi Perdana mengungkapkan, penyebab gagal bayar China Evergrande disebabkan karena perusahaan tersebut membiayai pinjamannya dengan utang.

Baca Juga: Bukalapak Buka Suara Soal Saham yang Anjlok Terus

Dampak Evergrande ke Obligasi Korporasi

Obligasi Korporasi

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, selain itu, ada kesalahan manajemen yang menyebabkan Evergande China mengalami gagal bayar hingga US$ 305 miliar atau setara US$ 4.361 Triliun (kurs Rp 14.300/USD) karena kesulitan likuiditas. Yogi mengungkapkan:

“Dampaknya terhadap sektor korporasi di Indonesia, menurut pandangan saya pribadi harusnya netral, harus digali lagi apa yang menjadi penyebab default [Evergrande], banyak sekali.”

Sementara itu, bila dikaitkan dampaknya dengan sektor properti di Indonesia masih cenderung terbatas. Hal ini, menurut Yogi, terlihat dari berbagai indikator penjualan properti yang mulai menunjukkan peningkatan pra penjualan sejak tahun 2017. Sedangkan, pasar properti di tanah air tercatat lesu sejak tahun 2015.

“Properti secara risiko industri tinggi, tapi kalau melihat dari kinerja pra penjualan di semester pertama sebelum PPKM, trennya masih membaik dan membukukan pertumbuhan pra penjualan pertama sejak tahun 2017,” imbuhnya.

Sementara itu, Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fikri C Permana mengungkapkan, potensi gagal bayar yang Chine Evergrande bakal berimbas pada meningkatnya jumlah obligasi yang memiliki tingkat gagal bayar yang tinggi (junk bond).

“Junk bond di Indonesia belum banyak, tapi di China sudah tertinggi dalam 14 tahun terakhir. [Sentimen] ini akan meningkatkan [ obligasi ] junk bond di negara lain, termasuk di Indonesia, yield junk bond bisa naik,” ujarnya, saat dihubungi CNBC Indonesia.

Fikri menilai, kasus ini tidak sama dengan yang terjadi dengan subprime mortgage pasalnya di tahun 2008 krisis itu menjalar ke instrumen lainnya.

“Ini masih sulit mengikuti risikonya. Kasus Lehman Brothers ada kaitannya dengan sektor lain dan instrumen lain, ada asuransi. Tapi kalau ini ada kaitannya dengan shadow banking,” ujarnya.

Menurut Fikri, masalah yang dialami Evergrande berpotensi juga bisa merembet pada perusahaan properti yang lebih kecil di Negeri Tirai Bambu tersebut.

“Efek pertamanya persepsi risiko, orang melihat perusahaan sebesar Evergrande bisa ada kemungkinan kolaps, perusahaan yang lebih kecil dari Evergrande ada kemungkinan itu juga [default].”

Selain itu, efek yang ditimbulkan dari potensi gagal bayar Evergrande juga menyebabkan penurunan kekayaan dari sejumlah investor besar properti di China. Tercatat, semenjak diterpa kabar tersebut, saham Evergrande sudah rontok 17%.

Seperti diketahui, Lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat utang Evergrande dari CC menjadi CCC dengan outlook negatif. Fitch, lembaga pemeringkat lainnya, juga menurunkan rating Evergrande dari CC menjadi CCC+.

Menurut Fitch, utang Evergrande kepada perbankan dan lembaga keuangan lainnya adalah CNY 572 Miliar. Selain itu, bank juga memberi pinjaman kepada para supplier Evergrande senilai CNY 667 Miliar.