International Investor Club – Perusahaan pembiayaan PT Indomobil Finance Indonesia akan melakukan penawaran Obligasi Berkelanjutan IV Indomobil Finance Tahap II Tahun 2021 senilai Rp 1,93 Triliun.

Baca Juga: Salim Group Rilis Obligasi Rp 15 Triliun, Minat?

Indomobil Finance Terbitkan Obligasi

indomobil finance
SindoNews (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, obligasi tersebut akan dibagi dalam tiga seri dan merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi IV Indomobil Finance dengan target dana yang dihimpun mencapai Rp 4 Triliun.

Pertama, obligasi Seri A yang memiliki jumlah pokok Rp 1,28 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 4,90% per tahun. Jangka waktu obligasi seri A adalah 370 hari sejak tanggal emisi.

Kedua, obligasi seri B menawarkan jumlah pokok sebesar Rp 52,8 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,50% per tahun dan jangka waktu tiga tahun.

Ketiga, obligasi seri C memiliki jumlah pokok Rp 593,54 miliar dan tingkat bunga tetap sebesar 7,5% per tahun selama jangka waktu 5 tahun.

“Dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum ini, setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, akan dipergunakan seluruhnya oleh perseroan untuk modal kerja pembiayaan kendaraan bermotor dan alat berat,” kata manajemen Indomobil Finance dalam prospektusnya.

Penawaran umum Obligasi Berkelanjutan IV Indomobil Finance Tahap II Tahun 2021 akan berlangsung pada 12-16 November 2021. Sementara tanggal penjatahan pada 17 November 2021, dan tanggal emisi pada 19 November 2021.

PT Aldiracita Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT CIMB Niaga Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. akan bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi. Sedangkan, PT Bank Mega Tbk. bertindak sebagai wali amanat.

Outlook Risiko Gagal Bayar Membaik

Obligasi Bond yield

Disisi lain, kondisi pasar obligasi korporasi kian hari kian membaik. Hal ini tercermin dari tren risiko gagal bayar yang diekspektasikan semakin menurun

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana melihat, secara umum kondisi risiko gagal bayar para emiten saat sudah semakin membaik, khususnya bagi obligasi korporasi yang investment grade alias BBB ke atas. Kondisi ekonomi yang akhir-akhir ini semakin kondusif jadi faktor utama berkurangnya risiko gagal bayar tersebut.

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, jelas kondisi saat ini jauh lebih baik. Apalagi, likuiditas masih berlimpah dan yield obligasi korporasi dari semua tenor secara umum juga semakin turun, jadi iklimnya jelas membaik.”

Di satu sisi, Fikri juga melihat spread yield dengan SUN yang makin kecil untuk semua tenor dan rating turut menjadi katalis positif. Dari sisi emiten pun, tahun ini secara penerbitan jauh lebih baik sehingga menandakan optimisme dari para pelaku. Oleh karena itu, ia meyakini pada sisa tahun ini, risiko gagal bayar akan semakin terus turun.

Walau begitu, menurut Fikri masih terdapat beberapa sektor yang belum sepenuhnya bebas dari bayang-bayang risiko. Salah satu sektor yang patut diperhatikan dan diwaspadai adalah yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat. Ia melihat, sektor ini masih diselimuti ketidakpastian sehingga risikonya harus tetap dicermati.

“Saat ini kan kondisinya kebijakan yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat, khususnya transportasi masih terus berubah-ubah ya. Selama belum ada kebijakan yang pasti terkait hal ini, (risiko pada sektor ini) masih perlu terus dicermati,” imbuh Fikri.

Menyambut tahun depan, Fikri lebih optimistis kondisi pasar obligasi korporasi akan semakin membaik. Menurutnya, pulihnya aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat akan menjadi katalis positif untuk kinerja perusahaan dan cash flow mereka. Sementara dari sisi perusahaan, aksi ekspansi yang tertunda akan sangat mungkin dilakukan pada tahun mendatang.

Menurutnya, pencarian dana lewat obligasi korporasi masih akan dijadikan pilihan oleh para emiten. Dengan kinerja obligasi korporasi yang baik pada tahun ini, minat investor masih akan terjaga untuk tahun depan. Apalagi, dari sisi likuiditas masih akan besar dan spread antara obligasi korporasi dengan SUN masih akan terjaga atau malah semakin membaik.