MTEL

International Investor Club – Harga saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) merosot 4,37% ke level Rp 765 per saham pada hari perdana perdagangannya di awal pekan. Walau begitu, harga saham perusahaan berkode MTEL itu berhasil ditutup naik 1,31% ke posisi Rp 775 per saham.

Baca Juga: MLPL akan Gelar Rights Issue Miliaran Saham, Untuk Apa?

Harga MTEL di Bawah Harga IPO

MTEL
Kontan (doc.)

Padahal, biasanya saham-saham yang baru listing di Bursa Efek Indonesia mencatatkan kenaikan harga yang signifikan pada hari pertama perdagangan. Bahkan, sebagian sering kali terkena auto reject atas (ARA).

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, penurunan MTEL terjadi karena harga intial public offering (IPO) yang sebesar Rp 800 per saham dianggap lebih tinggi dibanding harga rata-rata industri. Penilaian ini dilihat dari price earning ratio (PER) dan rasio EV/EBITDA berdasarkan kinerja keuangan terakhir yang disetahunkan. Ia mengungkapkan:

“Harga yang ditawarkan MTEL berada di atas rata-rata industrinya yang artinya tergolong mahal.”

Hitungannya, EV/EBITDA Mitratel berada di kisaran 15,6 kali-19, 9 kali, sedangkan rata-rata EV/EBITDA industri menara telekomunikasi sebesar 14 kali.

Selain itu, penurunan ini terjadi karena sikap wait and see pelaku pasar. Dengan kata lain, investor masih belum optimis terhadap prospek perusahaan ke depannya. “Jadi harganya butuh turun dulu agar bisa dilirik oleh investor,” ucap Sukarno.

Wait and See Jadi Pilihan

asing saham
Okezone (doc.)

Sejauh ini, dia menyarankan pelaku pasar untuk wait and see terlebih dahulu. Investor bisa masuk ke saham ini ketika broker-broker sudah mulai akumulasi beli besar-besaran atau tunggu kejelasan arah tren pergerakannya.

Sementara itu, Analis Verdhana Sekuritas Indonesia Nicholas Santoso dan Raymond Kosasih memasang rekomendasi buy atas MTEL dengan target harga Rp 1.200 per saham. Rekomendasi ini diberikan seiring dengan potensi perkembangan Mitratel ke depannya.

Prospek pertumbuhan sektor menara di Indonesia bakal didorong trafik data yang kuat dan implementasi layanan 5G.

“Peluang pertumbuhan menara dan kelangkaan aset menara berkontribusi pada tren kenaikan valuasi menara.”

Menurut kedua analis tersebut, sebesar 57,3% dari total 28.030 menara milik Mitratel berada di luar Jawa dengan rasio kolokasi (tenancy ratio) saat ini 1,39 kali. Rasio tersebut lebih rendah dari tenancy ratio menara di pulau Jawa yang sebesar 1,64 kali.