International Investor Club – Saham berbasis komoditas seperti timah, nikel, dan CPO layak untuk dicermati menyusul kenaikan cukup tajam harga komoditas tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis kemarin, 25 November, diperkirakan bergerak dan ditutup dalam rentang 6,640 – 6,736.

Baca Juga:

Saham Komoditas

saham komoditas
Virtuse Exchange (doc.)

Dalam sajian berita Investor Daily dijabarkan, pengamat pasar modal dari MNC Asset Management, Edwin Sebayang, mengatakan harga timah, nikel, dan CPO masing-masing naik sebesar +2.84%, +2.74% & +1.1%.

“Sudah sepantasnya jika fokus investor Kamis ini tertuju kepada saham-saham berbasis ketiga komoditas tersebut seperti: TINS, INCO, HRUM, AALI, LSIP, SIMP, SSMS,” katanya dalam catatan pagi.

Dilain pihak, ia mengkhawatirkan terus menguatnya yield Obligasi AS tenor 2 tahun (salah satu prediktor terbaik untuk melihat probabilitas kenaikan FFR) yang saat ini mendekati level 0.64% membuat penutupan Indeks di Wall Street bervariasi dimana Indeks DJIA ditutup turun semalam disertai turunnya EIDO sebesar -0.29%.

Naiknya yield Obligasi AS tenor 2 tahun juga kembali memukul turun harga Gold (emas) dihari ke-lima sebesar -0.12%, sehingga selama lima hari harga Emas turun sebesar US$ 85.8 atau -4.69%.

Kombinasi turunnya harga komoditas tersebut disertai turunnya Indeks DJIA & EIDO ditengah kembali naiknya yield obligasi AS memberikan peluang akan terjadinya tekanan atas IHSG Kamis ini.

Menurut analisa dari laporan berita tersebut, saham yang masuk pantauan adalah SAMF, TINS, TBIG, MTDL dan PGAS.

IHSG Diprediksi Melemah

IHSG

Disisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah hingga menuju akhir pekan ini.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper mengatakan, secara teknikal IHSG masih berada dalam trend konsolidasi jangka pendek dengan kecenderungan melemah, didukung stochastic yang melebar setelah membentuk deadcross di sekitar area overbought.

“IHSG diprediksi melemah. Investor akan mencermati rilis beberapa data ekonomi dari Amerika Serikat yang diperkirakan akan berdampak pada kebijakan The Fed dalam jangka pendek,” ujar Dennies dalam rekomendasinya.

Selain itu, President Director PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga, optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir tahun 2021 berada di level 6.800.

Meskipun begitu, para investor hingga pelaku saham masih mewaspadai kegagalan bayar utang dari Amerika Serikat (AS).

“Target kami (IHSG) 6.700-6.800 di akhir tahun. Nah ini tersisa tiga bulan hingga akhir tahun. Kalau ditanya apakah ada perubahan proyeksi? Jawaban saya tidak ada.”