International Investor Club – Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam anjlok, bahkan pada perdagangan di pertengahan pekan, ditutup auto reject bawah (ARB) ke posisi Rp 1.935 atau terpangkas Rp 145 (6,97%).

Berembus kabar jatuhnya harga ANTM karena Indonesia Battery Corporation (IBC) gagal mengakuisisi StreetScooter Engineering, perusahaan kendaraan listrik ringan (electric light commercial vehicle/eLCV).

Baca Juga: Saham Properti & Konstruksi Berguguran, Ada Apa?

ANTM Harganya Ambruk

ANTM INCO TINS
Bisniscom (doc.)

Dalam sajian berita Investor Daily dijabarkan, adapun IBC dimiliki oleh empat BUMN sektor pertambangan dan energi, yaitu MIND ID, Antam, Pertamina, dan PLN. Masing-masing perusahaan memiliki saham IBC sebesar 25%. Lantas, apakah karena IBC gagal mengakuisisi StreetScooter yang memicu jatuhnya harga ANTM di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Bageur Stock, Andy Wibowo Gunawan berpendapat bahwa penurunan harga saham Antam bukan karena IBC gagal mengakuisisi StreetScooter di Jerman.

“Lebih disebabkan oleh rencana penerapan pungutan ekspor untuk feronikel dan nickel pig Iron (NPI) dalam waktu dekat.”

Hingga kuartal III-2021, porsi pendapatan ANTM dari bisnis feronikel sebesar 16,5% terhadap total pendapatan. “Jadi, bukan itu (IBC gagal mengakuisisi StreetScooter) yang menyebabkan penurunan harga ANTM,” jelasnya.

Menurut Andy, pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik adalah hal yang relatif, sehingga kegagalan akuisisi ini sejatinya tidak akan berdampak pada rencana pemerintah yang sudah dibangun dan jelas terarah secara jangka panjang.

Asumsi Pasar

saham farmasi ARB
Bisniscom (doc.)

Sementara itu, ekonom Universitas Surakarta Agus Trihatmoko menilai, kegagalan IBC mengakuisisi StreetScooter menunjukkan bahwa BUMN atau pemerintah memiliki banyak kalkulasi strategis dalam menyukseskan industri baterai dan kendaraan listrik di Indonesia.

“Asumsinya, rencana akuisisi StreetScooter hanyalah salah satu dari sekian inisiatif strategis yang mendukung hilirisasi industri nikel, yaitu baterai,” tutur Agus. Meski demikian, akselerasi pengembangan industri baterai sebagai hilirisasi nikel tetap harus dipacu. Sebab pasarnya akan bertumbuh seiring pergeseran industri otomotif dari basis energi fosil menuju baterai.

Kondisi ekonomi global yang masih dalam kekhawatiran pun tampaknya telah menjadi salah satu dasar penjualan pada saham tambang ini, yang memang belum memegang sentimen kuat secara luas untuk menumbuhkan pasar modal di tanah air.