Obligasi

International Investor Club – Memasuki tahun 2022, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menilai berbagai instrumen investasi dalam negeri, mulai dari surat utang atau obligasi, saham, hingga deposito masih menarik bagi para investor.

Baca Juga: MLPL Turun Belasan Kali, Bagaimana Tanggapan Manajemen?

Investasi Obligasi Masih Menarik

Obligasi

Dalam sajian berita Kompas dijabarkan, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan menjelaskan, investor nasional dan luar negeri memiliki ketertarikan terhadap dua jenis investasi, yakni pertama jenis investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) dalam hal ini instrumennya obligasi dan saham.

Jenis investasi kedua ialah paper asset, di mana jenis instrumennya ialah deposito yang dikelola oleh perbankan.

“Tiga-tanya sangat potensil,” kata Panji dalam Konferensi Pers Pre Event Mandiri Investment Forum 2022.

Menurutnnya, instrumen investasi obligasi menjadi menarik, seiring dengan upaya pemerintah menciptakan ekosistem industri kendaraan listrik berbasis baterai di Tanah Air. Kebutuhan akan pembiayaan menjadi tinggi untuk memenuhi upaya tersebut.

“Ini sangat terbuka investasi di bidang mineral, dalam hal ini material dasar dari baterai adalah cobalt nikel lithium. Itu ada di Indonesia,” ujar Panji.

Obligasi Bond yield

Lebih lanjut Panji bilang, obligasi pemerintah dan swasta relatif lebih menarik dibanding negara lain. Hal itu selaras dengan stabilitas perekonomian nasional yang ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi.

“Sehingga kalau menurut Saya ini masuk di dalam bonds, baik itu governance maupun corporate bonds keduanya kebuka,” ujarnya.

Selain itu, tren harga tinggi komoditas, khususnya terkait dengan energi, diproyeksi masih berlanjut tahun ini. Hal ini membuat kinerja perusahaan atau emiten yang bergerak di bidang komoditas energi dinilai menarik.

“Harga-harga komoditas sedang bagus, dalam hal ini batu bara, palm oil, minyak, gas, dan karet. Semua harga-garga komoditas sedang bagus,” kata dia.

Di sisi lain, kinerja industri perbankan nasional disebut lebih baik dibanding negara tetangga kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia. Suku bunga yang relatif terjaga membuat deposito perbankan nasional masih bisa menjadi opsi bagi para investor untuk menempatkan dananya.