International Investor Club – Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) alias BSI semakin moncer saja. Namun fundamental bank syariah terbesar di Indonesia itu belum tercermin pada harga sahamnya.

Tak disangsikan lagi, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih menjadi mesin laba yang mengesankan. Tahun lalu, BSI mencetak laba bersih sekitar Rp 3 Triliun, melonjak 43% dibanding tahun sebelumnya Rp 2,1 Triliun. Laba operasi BSI juga melesat 32% dari Rp 3,1 Triliun menjadi Rp 4,1 Triliun.

Baca Juga: Suspensi Dicabut, Dua Saham Ini Malah Kena ARB

Prospek Harga Saham BRIS

BRIS
Kontan (doc.)

Dalam sajian berita Investor Daily dijabarkan, kinerja keuangan emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BRIS itu tak berbanding lurus dengan harga sahamnya. Sebelumnya, saham BRIS ditutup pada harga Rp 1.670, melemah tipis Rp 5 atau 0,2%.

Dalam sepekan terakhir, harga BRIS memang menguat 8,1%. Malah dalam tiga tahun, saham BRIS mencatatkan capital gain 185,5%. Namun dalam tiga bulan terakhir, BRIS minus 19,7%. Selama tahun berjalan (year to date/ytd), saham BRIS pun negatif 6,2%, bahkan dalam setahun terakhir, saham bank milik anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu tergerus 41%.

Nah, dalam urusan kinerja keuangan, para analis yakin BSI bakal mampu melanjutkan tren kinerja positifnya tahun ini. Tren positif itu bakal beriringan dengan bertumbuhnya biaya perseroan dan meningkatnya pengguna seluler.

Berdasarkan riset CGS CIMB Sekuritas Indonesia, profit after tax and minority interest (PATMI) BSI bertumbuh 43%(yoy) menjadi Rp 771 Miliar.

“Dengan demikian, selama 2021, BSI mendapatan Rp 3 Triliun atau 38% yang membentuk 102% dari perkiraan,” kata analis CGS CIMB Sekuritas Indonesia, Ilham Firdaus dalam risetnya.

Pada tahun yang sama, pendapatan bagi hasil BSI bertumbuh 17% secara kuartalan atau 6% secara tahunan, karena biaya dana (cost of fund/CoF) turun 64 bps.

“Pada kuartal IV-2021, pendapatan bagi hasil BSI bertumbuh 17% secara kuartalan (q to q) atau 6% secara tahunan (yoy) sejalan dengan CoF yang menurun 7 bps secara kuartalan atau 64 bp secara tahunan,” tambah analis CGS CIMB Sekuritas Indonesia, Yulinda Hartanto.

Pada 2021, pendapatan bagi hasil BSI tercatat stabil pada level 6%, sedangkan pendapatan bertumbuh 8% menjadi Rp 16,6 Triliun. Angka itu sesuai perkiraan CGS CIMB sebelumnya.

Industri Properti (doc.)

Dalam kajian CGS CIMB Sekuritas Indonesia, strategi BSI untuk menumbuhkan consumer book akan membantu profitabilitas dan kualitas aset perseroan. Segmen konsumer menawarkan imbal 11% dengan NPF 1,5%.

BSI sendiri menargetkan segmen financing bertumbuh 13%pada 2022. Dari sisi liabilitas, BSI melaporkan pertumbuhan yang sangat kuat, yakni 15% dengan total deposit bertumbuh 11% secara tahunan dari segmen produk 0% yang diberi nama tabungan Wadiah.

“Kualitas aset juga menunjukan perbaikan, financing at risk (FAR) BSI menurun 8% dengan rasio penurunan 3,4% menjadi 17,7% pada 2021. Rasio cakupan FAR meningkat menjadi 25% pada 2021. Cakupannya kemungkinan meningkat pasca-implementasi PSAK 113,” papar CGS CIMB Sekuritas Indonesia dalam risetnya.

CGS CIMB Sekuritas Indonesia percaya bahwa likuiditas yang kuat ditambah pertumbuhan produk tabungan Wadiah mampu menopang pengelolaan CoF BSI.

Dari sisi kualitas pembiayaan, NPF net BSI membaik menjadi 0,87% pada Desember 2021. Ini tak lepas dari akselerasi digital yang membuat perseroan terus bergerak mengikuti perubahan perilaku nasabah yang serba dinamis, cepat, dan aman.

“Kami berkomitmen untuk mempertahankan dan terus menumbuhkan kinerja positif ini ke depan, sehingga bisa menjadi tokoh utama dalam pengembangan ekonomi syariah di Tanah Air,” tutur Hery Gunardi.

Ada kemungkinan, harga akan kembali pulih dalam beberapa waktu ke depan karena fundamental yang sudah mendukung.