PTBA

International Investor Club – Harga komoditas batubara yang tinggi dinilai para analis akan mendorong kinerja PT Bukit Asam Tbk (Tbk).

“Meningkatnya harga batubara pasti akan berdampak positif terhadap earnings PTBA ke depannya, terlebih lagi mereka meningkatkan target produksi tahun ini menjadi 37 juta ton, cukup tinggi lompatnya dari 30 juta ton di tahun 2021,” jelas Analis Panin Sekuritas, Timothy Wijaya.

Baca Juga: ADCP Pangkas Jumlah Saham IPO, Kenapa?

PTBA Terlihat Menarik

PTBA Batu Bara saham
Bisniscom (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, selain harga, sentimen lain yang akan mendorong kinerja PTBA tahun ini datang dari proyek-proyek perseroan yang sudah mulai berjalan. Contohnya, proyek gasifikasi batubara menjadi DME yang sudah mulai pembangunan pabriknya bulan lalu.

Timothy menjabarkan, nantinya pabrik tersebut dapat mengolah 6 juta ton batubara menjadi 1,4 juta ton DME. “Ini akan berdampak positif bagi PTBA karena tidak dikenakan pajak royalti,” paparnya.

Senada, Analis Samuel Sekuritas, Dessy Lapagu juga menilai bahwa bisnis hilirisasi PTBA yang secara jangka panjang diperkirakan akan menunjang kinerja fundamental emiten ini.

Walau begitu, dia melihat tetap ada sentimen yang bisa membayangi kinerja perusahaan tahun ini, yakni potensi penurunan harga batubara global dengan asumsi adanya kenaikan supply signifikan terutama dari China untuk membawa harga turun.

“Namun jika melihat kondisi sekarang, sepertinya supply crunch masih akan terjadi pada tahun ini sehingga harga global masih cenderung kuat,” imbuhnya.

Karenanya, kedua analis berpendapat bahwa sentimen negatif penurunan harga itu tidak akan terlalu berdampak signifikan pada kinerja PTBA yang diyakini tetap tumbuh positif. Terlebih, Dessy memproyeksikan tahun ini harga batubara mencapai US$ 150/ton.

Kemudian Timothy juga memperkirakan peningkatan penjualan PTBA tahun ini seiring dari peningkatan volume produksi dan juga peningkatan rata-rata harga jual (average selling price/ASP). Karenanya, di 2022 Panin Sekuritas memproyeksikan pendapatan PTBA bisa tumbuh 13% yoy.

Batu Bara
Tirto (doc.)

Analis RHB Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal dan Andrey Wijaya juga menilai prospek kinerja perusahaan akan tetap positif tahun ini terlepas dari potensi penurunan harga karena adanya kenaikan supply signifikan terutama dari China untuk membawa harga turun.

Sebabnya, perusahaan dinilai mampu mengelola biaya dengan baik, yang mana margin EBIT PTBA cukup tinggi di 33% dibandingkan rata-rata sejawatnya 29%.

Di sisi lain, perseroan juga mulai mengejar lebih banyak pesanan luar negeri, terutama dari pelanggan di Asia Tenggara yang mana transisi menuju energi terbarukan belum agresif.