International Investor Club – Bulan Februari menjadi periode yang positif untuk kinerja reksadana. Berdasarkan data dari Infovesta Utama, seluruh jenis reksadana berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja.

Baca Juga: MEGA Bakal Bagi Dividen dan Saham Bonus, Apakah Emiten Ini Menarik?

Prospek Reksadana di Bulan Maret

Unitlink dan Reksadana

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, reksadana dengan pertumbuhan tertinggi adalah reksadana saham di mana Infovesta 90 Equity Fund Index yang mengukur kinerjanya berhasil tumbuh 2,43%. Lalu disusul oleh reksadana campuran yang kinerjanya tercermin dari Infovesta 90 Balanced Fund Index yang naik 1,54%.

Sementara reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang masing-masing kinerjanya tercermin dari Infovesta 90 Fixed Income Fund Index dan Infovesta 90 Money Market Fund Index berhasil tumbuh 0,36% dan 0,20%.

Head of Investment Avrist Asset Management Ika Pratiwi Rahayu mengungkapkan, faktor pendorong kinerja reksadana saham adalah pergerakan IHSG yang menguat 3,88% secara bulanan. IHSG juga berhasil mencapai level tertinggi baru di 6.929, sebelum akhirnya ditutup di level 6.888. Ika mengungkapkan:

“Penguatan IHSG ini antara lain didukung oleh aksi beli investor asing terhadap saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan, serta kenaikan harga komoditas.”

Memasuki Maret, kondisi pasar keuangan dihadapkan dengan perang antara Rusia – Ukraina yang mengakibatkan meningkatnya ketidakpastian. Ika menjelaskan, pasar akan terus mengamati perkembangan konflik beserta dampaknya terhadap ekonomi, harga komoditas dan pasar keuangan global.

Selain konflik, pasar juga menantikan pertemuan The Fed yang dijadwalkan akan berlangsung pada 15-16 Maret, di mana The Fed berencana akan menghentikan program pembelian obligasi dan mulai menaikkan suku bunga untuk meredam laju inflasi AS yang terus mengalami kenaikan.

Reksadana

Semula pasar, memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 0,5% pada pertemuan Maret. Namun setelah berlangsungnya perang, Ika meyakini kemungkinan terbesar The Fed hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 0,25% sambal mencermati perkembangan ekonomi lebih lanjut.

Sementara Direktur Panin Asset Management Rudiyanto meyakini perang bisa menjadi katalis negatif jika eskalasi terus memanas dan melibatkan banyak negara. Namun, konflik kali ini melibatkan negara penghasil komoditas energi yang besar sehingga berdampak terhadap harga komoditas.

Menurutnya, dari persepsi asing, Indonesia adalah negara komoditas sehingga dianggap sebagai negara yang diuntungkan.

“Sama seperti 2020 ke sektor kesehatan dan teknologi, lalu 2021 ke sektor digital, 2022 kemungkinan akan menjadi tahunnya energi dan komoditi di mana Indonesia menjadi negara tujuan investor asing,” imbuh Rudiyanto.