International Investor Club – Pemulihan ekonomi jadi pendorong penerbitan obligasi korporasi. Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan obligasi korporasi dari Januari hingga 13 April 2022 mencapai Rp 43,55 Triliun.

Baca Juga: Elon Musk Ingin Borong 100% Twitter, Siap Gelontorkan $43 Miliar

Obligasi Korporasi Masih Menarik

obligasi korporasi
Bareksa (doc.)

Dalam sajian berita kontan dijabarkan, penerbitan surat utang korporasi pada Januari 2022 tercatat Rp 3,54 Triliun, bulan Febuari sebesar Rp 11,43 Triliun, Maret sebanyak Rp 25,37 Triliun dan bulan April hingga 13 April sebesar Rp 3,19 Triliun.

Sementara jika berdasarkan jenis instrumen, obligasi menjadi penyumbang terbanyak sebesar Rp 38,05 Triliun, medium term notes (MTN) sebesar Rp 1,65 Triliun dan sukuk Rp 3,84 Triliun.

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi mengatakan, pertumbuhan obligasi korporasi tahun ini semakin memudahkan HPAM memilih obligasi korporasi yang akan dijadikan aset dalam reksadana terproteksi dan reksadana pendapatan tetap. Ia mengungkapkan:

“Imbal hasil benchmark obligasi tenor 10 tahun Indonesia meningkat sebesar 110 bps secara mingguan ke 6,80% karena tekanan dari imbal hasil US Treaury 10-tahun berlanjut.”

Fahmi juga menyampaikan, yield treasuri AS tenor 10 tahun naik sebanyak 370 bps menjadi 2,75%.

Ia mengatakan, saat ini menjadi momen yang tepat bagi korporasi untuk menerbitkan surat utang. Hal ini karena suku bunga acuan BI yang masih bertahan di level rendah. Selain itu, SBN dan obligasi korporasi Indonesia memiliki daya tariknya tersendiri.

Obligasi Bond yield

Investor masih memandang SBN Indonesia sebagai instrumen yang aman di tengah tingginya ketidakpastian pasar. Menurut Fahmi, penerbitan surat utang korporasi di 2022 bergantung pada pandemi Covid-19 dan varian baru yang tidak bisa diprediksi.

“Namun, pertumbuhan penerbitan surat utang korporasi tercatat meningkat pada penerbitan obligasi dan sukuk di awal 2022 sehubungan dengan ekspektasi para emiten bahwa suku bunga saat ini secara umum cukup rendah,” kata Fahmi.

Emiten juga mengantisiapsi peningkatan biaya dana atau cost of fund seiring dengan langkah bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Faktor lainnya berasal dari membaiknya prospek bisnis dari berbagai sektor. Dengan begitu, banyak perusahaan yakin bahwa penggunaan dana tambahan dari pasar modal dapat mereka utilisasi dengan optimal.

Menurut Fahmi, obligasi masih menjadi pilihan favorit karena tingkat likuiditas pasar obligasi sangat tinggi sehingga dapat meminimalkan risiko undersubscribe penerbitan obligasi.

“Secara fundamental, pelaku pasar juga melihat potensi koreksi harga obligasi kemungkinan akan cenderung terbatas, mengingat masih sangat tingginya real yield Indonesia dibandingkan negara-negara emerging market lainnya,” ujar Fahmi.