International Investor Club – Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan sanksi ekonomi kepada Barat. Ini seperti aksi balas dendam kepada negara-negara seperti Amerika hingga Eropa yang selama ini mengecam Rusia.

Hal ini menyusul ditandatanganinya dekrit oleh Putin tentang sanksi ekonomi pembalasan sebagai tanggapan atas tindakan tidak bersahabat dari negara-negara asing tertentu dan organisasi internasional.

Baca Juga: Risiko Resesi Eropa dan AS Terus Meningkat Setiap Hari

Rusia Berikan Saksi Ekonomi ke AS dan Sekutu

default Rusia
Atlantic Council (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, dokumen tersebut tidak memberikan perincian tentang individu atau entitas mana yang mungkin terpengaruh oleh tindakan tersebut.

Namun, menurut dekrit tersebut, Moskow akan melarang ekspor produk dan bahan mentah kepada orang dan entitas yang telah dikenai sanksi.

Dekrit tersebut juga melarang transaksi dengan individu dan perusahaan asing yang terkena sanksi pembalasan Rusia, dan mengizinkan rekanan Rusia untuk tidak memenuhi kewajiban terhadap mereka.

Berdasarkan dekrit tersebut, pemerintah Rusia memiliki waktu 10 hari untuk menyusun daftar individu dan perusahaan asing yang akan dikenai sanksi, serta untuk menentukan “kriteria tambahan” untuk sejumlah transaksi yang dapat dikenai pembatasan.

Di sisi lain, di tengah hubungan yang memanas dengan Moskow, para pejabat di Israel dilaporkan sedang bersiap untuk mengirim lebih banyak bantuan militer dan kemanusiaan ke Ukraina.

Berdasarkan laporan dari surat kabar Haaretz, di antara bantuan yang akan dikirim terdapat sistem pertahanan yang melindungi pasukan di darat, perlengkapan tempur pribadi, dan sistem peringatan.

Hanya saja, sistem persenjataan yang tergolong canggih dan mematikan belum akan dikirim dalam waktu dekat.

Adapun, rencana itu digodok ketika Israel menghadapi tekanan yang meningkat dari Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Rusia. Perlu diketahui, serangan Negeri Beruang Merah ke Ukraina telah memasuki bulan ketiga.

Sementara itu, hubungan Israel dan Moskow pun terus memanas dalam beberapa hari terakhir.

Rusia menuding Israel mendukung gerakan ‘neo-Nazi’ di Ukraina.

Tuduhan ini diutarakan langsung oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Hal ini juga disampaikan Rusia setelah Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid mengecam pernyataan Lavrov bahwa Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang adalah seorang Yahudi dan mirip seperti Hitler.

Menurut Lapid, itu adalah perkataan yang tak termaafkan karena merendahkan ingatan terkait Holocaust Nazi. Sementara itu, menurut Lavrov, pernyataan tersebut ahistoris dan justru memperlihatkan dukungan Israel ke neo-Nazi.

“Antisemitisme dalam kehidupan sehari-hari dan dalam politik tidak dihentikan dan sebaliknya, dipelihara (di Ukraina),” ujar Lavrov dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Reuters.