International Investor Club – Meski baru seumur jagung melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tercatat menjadi saham pemberat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date (ytd).

Baca Juga: UNTR dalam Rekomendasi Usai Penjualan Alat Berat Naik

GOTO dan IHSG

Lo Kheng Hong GoTo saham
Detik (doc.)

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, pada perdagangan sebelum libur lebaran, saham GOTO terjun ke level Rp 272 per saham. Harga tersebut turun 6,21% atau 18 poin dari posisi sebelumnya Rp 290 per saham.

Berdasarkan data BEI, secara year to date saham teknologi ini sudah anjlok 19,5% dari harga initial public offering (IPO) di level Rp 338 per saham. Penurunan saham GOTO ini juga ikut menekan IHSG sebesar 126,5 poin.

Hingga perdagangan akhir pekan lalu, kapitalisasi pasar GOTO mencapai Rp 322 Triliun dan mendorong GOTO turun posisi ke lima sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar BEI di bawah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Padahal, kapitalisasi pasar GOTO pada awal listing senilai Rp 400,31 Triliun.

Selain itu, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi penekan IHSG kedua terbesar setelah GOTO. Sepanjang tahun berjalan ini, saham ARTO sudah turun 27,2% dan membuat IHSG terkoreksi 44,9 poin.

Selanjutnya, ada saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang sudah turun 13,4% secara ytd dan menekan IHSG sebesar 13,1 poin. Kemudian, ada saham PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) yang melemah 26,8% ytd dan menekan IHSG sejumlah 11,5 poin.

Pada urutan kelima saham pemberat IHSG ada saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB). Saham BBYB telah turun sebesar 36,3%, bersamaan ini IHSG ikut terkoreksi sebesar 10,2 poin sepanjang tahun berjalan ini.

Sebagai pengingat, pada perdagangan sebelum lebaran Idul Fitri, IHSG ditutup menguat 32,15 poin atau 0,45 persen ke level 7.228,91. Sementara, sejak awal tahun hingga Kamis (28 April), IHSG telah menguat 9,84% atau naik 647,43 poin.

Prospek Sektor Properti

asuransi properti

Di sisi lain, sektor properti disinyalir akan bangkit. Salah satu katalisnya berangkat dari pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) di perbankan.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pertumbuhan KPR 9,8% yoy menjadi Rp 98,2 Triliun. Lalu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) pada periode Januari-Maret 2022 menyalurkan kredit mencapai Rp 277,13 Triliun. Kredit perumahan yang disalurkan Bank BTN hingga akhir Maret 2022 mencapai Rp 248,57 Triliun.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai sektor properti memang sudah mulai menggeliat. Nico mengungkapkan:

“Namun, belum seluruhnya pulih dan hanya berlangsung sesaat saja.”

Menurut Nico, ketidakpastian di pasar masih menjadi salah satu alasan masyarakat menahan konsumsinya. Apalagi ketidakpastian kian bertambah seiring sejalan dengan kenaikan harga bahan bahan pokok di masyarakat.

Dia memaparkan bahwa penyaluran kredit memang terus membaik. Hanya saja, yang harus diperhatikan adalah pada awal tahun 2022 situasi dan kondisinya belum seperti sekarang.

Situasi dan kondisi bertambah kian tidak pasti karena adanya perang yang mendorong berbagai harga naik. Kenaikan harga bahan bakar turut mengangkat harga makanan. Berbagai kenaikan harga akhirnya mengerek inflasi.

“Hal ini yang kami perkirakan setelah mengalami awal yang bagus, sektor properti akan terlihat kembali turun, meskipun secara jangka panjang sektor ini berpeluang besar untuk pulih tahun ini,” kata Nico.

Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora berpendapat bahwa secara siklus usai batubara mengalami kenaikan umumnya akan berlanjut ke sektor properti. Karena itu, dia memproyeksikan emiten-emiten properti bakal tetap naik yang juga ditopang oleh suku bunga saat ini yang masih rendah dan juga insentif dari pemerintah sampai September 2022.

Nah, pada semester kedua memang diperkirakan suku bunga akan naik. Lalu, pada kuartal keempat insentif sudah berakhir. Tapi Andhika memperkirakan properti masih akan tetap kuat didorong oleh pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat yang membaik.

“Sehingga diperkirakan permintaan akan properti masih tetap tinggi,” ujar dia.