BCA

International Investor Club – Penempatan dana pada obligasi korporasi merupakan salah satu alternatif bagi perbankan tingkat imbal hasil aset, terutama di saat permintaan kredit masih lesu.

Saat ini penyaluran kredit perbankan sudah semakin membaik dari tekanan akibat pandemi Covid-19, termasuk kredit korporasi.

Baca Juga: MPMX Akan Bagikan Dividen Rp 800 Miliar

BCA ke Obligasi Korporasi

Bank BCA

Dalam sajian berita Kontan dijabarkan, kendati penyaluran kredit semakin membaik, penempatan dana beberapa bank pada obligasi korporasi masih mengalami pertumbuhan. Hal ini sejalan dengan likuiditas bank yang masih sangat longgar.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya, mencatat penempatan dana pada obligasi korporasi sebesar Rp 29,1 Triliun per Maret 2022. Itu meningkat 25,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY).

Sedangkan total kredit BCA tercatat tumbuh 8,6% YoY menjadi Rp 637,1 Triliun pada kuartal I tahun ini.

Vera Eve Lim Direktur Keuangan BCA mengatakan, pihaknya mencermati bahwa penempatan dana pada instrumen obligasi korporasi merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas perusahaan serta mendukung perekonomian nasional. Hal ini juga untuk menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat.

“Ke depan, penempatan pada obligasi korporasi diperkirakan masih akan tumbuh didukung oleh likuiditas bank dan pemulihan perekonomian nasional,” kata Vera.

Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan di segmen korporasi tumbuh 5,8% yoy menjadi Rp 2.957,6 Triliun pada kuartal pertama 2022. Bahkan BI memperkirakan kebutuhan kredit korporasi pada April meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

BCA pun berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit korporasi mencapai 9,2% mencapai Rp 286,97 Triliun pada Maret 2022. Presiden Direktur Bank, Jahja Setiaatmadja, menyebut kredit korporasi menjadi penopang pertumbuhan kredit perusahaan.

Pertumbuhan kredit sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional. Pertumbuhan kredit juga terjadi di semua segmen termasuk kredit bisnis dan konsumsi,” terangnya.

Di sisi lain, bisnis wealth management PT Bank Central Asia Tbk terus tumbuh positif. Hal ini terlihat dari peningkatan transaksi pada aplikasi investasi dan asuransi, Welma BCA.

Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn menyebut, transaksi Welma BCA mencapai Rp 12,9 Triliun pada April 2022. Nilai itu meningkat 43% dibandingkan realisasi Desember 2021. Ia mengungkapkan:

“Adapun produk yang paling diminati adalah obligasi, terutama obligasi perdana (IPO).”

Ke depan, bank swasta terbesar di Indonesia akan senantiasa memberikan solusi sesuai dengan kebutuhan nasabah dan memberikan kemudahan bagi nasabah dalam bertransaksi investasi secara tepat.

Berdasarkan situs resmi BCA, Welma BCA menawarkan produk investasi seperti reksadana, obligasi pemerintah baik dari pasar perdana maupun sekunder. Selain itu, ada pula asuransi proteksi diri pada fitur Leave Contact Asuransi.