International Investor Club – Yield obligasi Indonesia menurun, mengikuti harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) yang ditutup kompak menguat pada perdagangan awal pekan, di tengah ekspektasi pasar bahwa inflasi di Amerika Serikat (AS) akan terus melandai.

Baca Juga: BCA Optimistis Penjualan SBR011 akan Laris Manis

Yield Obligasi RI

yield obligasi
Abis gajian (doc.)

Dalam sajian berita CNBC Indonesia dijabarkan, investor memang telah kompak memburu SBN pada hari ini, sehingga yield obligasi RI pun merosot.

Melansir data dari Refinitiv, SBN tenor 3 tahun menjadi yang paling besar penurunan yield-nya pada hari ini, yakni melemah 36,6 basis poin (bp) ke level 4,908%.

Sedangkan SBN berjatuh tempo 25 tahun menjadi yang paling kecil penurunan yield-nya pada hari ini, yakni turun 0,3 bp ke level 7,559%.

Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun juga melemah 7,6 bp ke level 7,065% pada perdagangan hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Investor global dalam beberapa hari terakhir cenderung optimis setelah inflasi di Amerika Serikat (AS) dilaporkan melambat. Hal ini dapat ditandai dengan cerahnya pasar saham global.

Obligasi Bond yield

Tak hanya di saham saja, pasar kripto juga mengalami pemulihan, meski masih dibayang-bayangi oleh aksi jual investor.

Sebelumnya pada Jumat pekan lalu waktu AS, indeks belanja konsumsi perorangan (personal consumption expenditure/PCE) AS tumbuh 4,9% per April 2022, atau melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 5,2%.

Indeks PCE menjadi acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menentukan langkah moneter mereka selanjutnya. Jika inflasi terkendali, maka langkah agresif penaikan suku bunga AS bisa dihindari dan membantu mengurangi tekanan atas saham teknologi.

Optimisme akan perlandaian inflasi tersebut memicu pelemahan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun-yang menjadi acuan pasar, ke bawah level 2,75% dari posisi tertinggi sepanjang tahun ini di angka 3%.

Meski demikian, pelaku pasar masih menimbang-nimbang prospek keberlanjutan cerahnya aset berisiko global, yakni pasar saham dan pasar kripto untuk melihat apakah koreksi yang terjadi sudah menyentuh dasarnya ataukah masih berlanjut.

Pasalnya, situasi global masih dicekam ketidakpastian akibat perang Rusia-Ukraina yang masih terjadi hingga kini dan belum ada tanda-tanda akan damai.