International Investor Club – Bank Sentral AS, Federal Reserves (The Fed) rupanya sudah berubah pikiran terkait potensi terjadi resesi yang harus diantisipasi dengan memitigasi risiko pertumbuhan ekonomi agar teta terjaga di level aman.

Alih-alih menghindar, para pejabat The Fed kini mulai mengirimkan sinyal bahwa telah legawa dan siap menerima terjadinya resesi sebagai bagian dari konsekuensi yang harus dibayar agar dapat kembali mengendalikan inflasi, dan menekannya ke level rendah.

Baca Juga: SMMA Tawarkan Obligasi dengan Bunga Hingga 10,50%, Minat?

Fed Siap Menerima Terjadinya Resesi

Fed
Republika (doc.)

Dalam sajian berita IDX Channel dijabarkan, para pembuat kebijakan tersebut, yang sebelumnya dikritik lantaran dinilai terlambat dalam menyikapi lonjakan inflasi di AS, seketika menggeber dengan kebijakan suku bunga tinggi.

Terbaru, The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada Rabu waktu AS, menjadi yang ketiga kalinya secara berturut-turut, sekaligus membuka kemungkinan pengetatan lebih lanjut sebesar 1,25 poin persentase sebelum akhir tahun.

Kondisi tersebut jauh lebih kontraktif (hawkish) dibanding proyeksi para ekonom. Selain itu, para pejabat juga memangkas proyeksi pertumbuhan, serta meningkatkan prospek pengangguran.

Bahkan, Gubernur The Fed, Jerome Powell, juga telah berulang kali menyatakan bahwa perlambatan ekonomi memang terasa menyakitkan namun sekaligus dibutuhkan guna mengekang tekanan harga yang berjalan di level tertinggi sejak 1980-an.

“Pengakuan Powell bahwa akan ada pertumbuhan di bawah tren untuk suatu periode harus diterjemahkan bahwa The Fed sedang berbicara tentang resesi. Waktu menjadi lebih sulit dari poin ini,” ujar perwakilan Principal Global Investors, Seema Shah, sebagaimana dilansir Bloomberg.

Memang, diakui Sheema, para petinggi The Fed belum secara eksplisit memproyeksikan tentang terjadinya resesi. Namun retorika yang dibangun Powell tentang kenaikan suku bunga yang bakal menyebabkan rasa sakit bagi pekerja dan bisnis semakin tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam konferensi pers pasca kenaikan suku bunga, Powell menyebut soft landing dengan hanya sedikit peningkatan pengangguran nakal terasa sangat menantang.

“Tidak ada yang tahu apakah proses ini akan mengarah pada resesi atau tidak. Jika demikian, seberapa signifikan resesi itu,” tutur Powell.

Menurut Powell, peluang soft landing cenderung berkurang sejauh kebijakan perlu lebih ketat, atau membatasi lebih lama. Meski demikian, Powell menegaskan bahwa posisi The Fed masih tegas dan konsisten dalam menekan inflasi hingga ke arah dua persen.

Penilaian yang bijaksana itu sangat kontras dari enam bulan lalu, ketika pejabat Fed pertama kali mulai menaikkan suku dari mendekati nol dan menunjuk kekuatan ekonomi sebagai hal yang positif, sesuatu yang akan melindungi orang dari merasakan efek dari ekonomi yang mendingin.

Para pejabat saat ini secara implisit telah mengakui melalui proyeksi pengangguran mereka yang lebih pesimistis, bahwa permintaan perlu dibatasi di setiap tingkat ekonomi, karena inflasi telah terbukti terus-menerus dan meluas.