International Investor Club – Tesla mencatat kenaikan penjualan hingga 35% pada periode Juli-September dibandingkan dengan kuartal kedua. Itu karena pabrik perseroan di China berhasil melewati masalah rantai pasokan dan pembatasan pandemi COVID-19.

Baca Juga: PGAS Masuk Rekomendasi Analis, Kenapa?

Tesla Belum Penuhi Ekspektasi

Indonesia Tesla NDA
Detik (doc.)

Dalam sajian berita IDX Channel dijabarkan, perusahaan kendaraan listrik dan panel surya mengatakan pada hari Minggu (2 Oktober) bahwa mereka menjual 343.830 mobil dan SUV pada kuartal ketiga dibandingkan dengan 254.695 pengiriman yang dilakukan dari April hingga Juni.

Tetapi jumlah pengiriman masih jauh dari perkiraan Wall Street. Analis yang disurvei oleh penyedia data FactSet memperkirakan penjualan perusahaan Elon Musk itu bisa mencapai 371.000 kendaraan.

Tesla mengatakan menghadapi tantangan terkait kapasitas transportasi dengan biaya yang wajar ketika mengirimkan kendaraan dari pabriknya ke pelanggan. Tesla mengatakan memiliki jumlah kendaraan transit yang lebih tinggi dari biasanya pada akhir kuartal yang akan dihitung sebagai penjualan setelah dikirimkan ke pelanggan.

Tesla mengatakan telah memproduksi 365.923 kendaraan pada periode Juli-September. Sepanjang tahun ini, perusahaan telah mengirimkan 908.573 kendaraan.

Meski begitu, perseroan perlu solusi untuk mencapai prediksi pertumbuhan penjualan tahunan sebesar 50 persen mulai tahun ini hingga beberapa tahun ke depan.

Tahun lalu, perusahaan yang berasal dari Austin, Texas, itu berhasil mengirimkan 936.172 kendaraan. Peningkatan 50% akan menjadi lebih dari 1,4 juta untuk tahun ini.

Adapun, penjualan kuartal ketiga merupakan indikasi yang baik bagi pendapatan perusahaan yang akan merilis kinerja keuangan setelah pasar tutup pada 19 Oktober mendatang.

TSLA TESLA
Sumber: Glassdoor.com

Industri otomotif lainnya melaporkan penjualan September dan kuartal ketiga pada hari Senin (3 Oktober). Pembuat mobil, termasuk Tesla, telah melaporkan kesulitan mendapatkan chip komputer dan suku cadang lain yang diperlukan untuk membuat kendaraan. Akibatnya, beberapa pabrik berjalan di bawah kapasitas, dan pasokan kendaraan rendah sementara harga tinggi.

Ketika pandemi meletus di AS pada tahun 2020, pembuat mobil harus menutup pabrik selama delapan minggu untuk membantu menghentikan penyebaran virus. Beberapa perusahaan suku cadang membatalkan pesanan semikonduktor.

Pada saat yang sama, permintaan untuk laptop, tablet, dan konsol game meroket karena orang-orang yang terjebak di rumah meningkatkan perangkat mereka.

Pada saat produksi mobil dilanjutkan, pembuat chip telah mengalihkan produksi ke barang konsumsi, menciptakan kekurangan chip kelas otomotif yang tahan cuaca. Meskipun Tesla telah bernasib lebih baik daripada pembuat mobil lain, industri masih belum bisa mendapatkan cukup chip.